Tulisan ini dibuat pada tanggal 15 mei, ketika lagi rame-ramenya berita keramaian di bandara soetta, dan relaksasi psbb kota tegal pagi hari tadi. Ya, gua nulis ini gara-gara kesel banget, udah bosan dirumah selama 2 bulan, hampir 3 bulan. Gua yang cuma mahasiswa, kuliah dirumah aja bosen, alhamdulillah masalah kebutuhan sehari-hari masih terpenuhi. Coba kita memikirkan keadaan masyarakat yang ekonominya terdampak pandemi, mereka untuk makan aja kesusahan, bahkan di bulan april kemarin sampai ada yang meninggal karena kelaparan.
Miris, apalagi kita melihat bagaimana usaha para tenaga medis dalam penanganan corona. 2 bulan cuy, bayangin seberapa capenya mereka? Banyak tenaga kerja di phk, bpjs naik, banyak pedagang kehilangan konsumennya, mau sampai kapan keadaan kaya gini terus? Di sisi lain pemerintah membuka akses transportasi. Sangat mencengangkan ketika mudik dilarang tapi pesawat melayang. Ketika yang kaya bisa pulang dengan terbang, mereka yang secara ekonominya kurang menahan lapar dari awal psbb sampai sekarang. Apa yang dipikirkan? Disaat para tenaga medis berjuang digaris depan, para wakil rakyat mengesahkan ruu yang ditentang banyak orang. Sungguh miris padahal janjinya fokus ke penanganan bencana nasional ini.
Sungguh, tidak ada kekuatan dan kekuasaan selain milik Allah, hanya kepada-Nya kita bisa berharap. Gua udah salah diawal ketika berharap kepada pemerintah agar menangani pandemi ini dengan sebaik-baiknya. Karena ada satu perkataan yang berbunyi ; semakin kau berharap pada manusia, semakin besar kau akan kecewa karenanya. Maka tiada tempat dan tujuan untuk kita berharap, bergantung dan meminta selain kepada Allah, rabb semesta alam, tuhannya pemerintah, ojol, tenaga medis, pekerja yang diphk, tka china yang kemarin datang, yang pada mudik, para relawan, seluruh masyarakat indonesia dan seluruh manusia di dunia, virus corona, tuhanku, dan juga tuhanmu.
Miris, apalagi kita melihat bagaimana usaha para tenaga medis dalam penanganan corona. 2 bulan cuy, bayangin seberapa capenya mereka? Banyak tenaga kerja di phk, bpjs naik, banyak pedagang kehilangan konsumennya, mau sampai kapan keadaan kaya gini terus? Di sisi lain pemerintah membuka akses transportasi. Sangat mencengangkan ketika mudik dilarang tapi pesawat melayang. Ketika yang kaya bisa pulang dengan terbang, mereka yang secara ekonominya kurang menahan lapar dari awal psbb sampai sekarang. Apa yang dipikirkan? Disaat para tenaga medis berjuang digaris depan, para wakil rakyat mengesahkan ruu yang ditentang banyak orang. Sungguh miris padahal janjinya fokus ke penanganan bencana nasional ini.
Sungguh, tidak ada kekuatan dan kekuasaan selain milik Allah, hanya kepada-Nya kita bisa berharap. Gua udah salah diawal ketika berharap kepada pemerintah agar menangani pandemi ini dengan sebaik-baiknya. Karena ada satu perkataan yang berbunyi ; semakin kau berharap pada manusia, semakin besar kau akan kecewa karenanya. Maka tiada tempat dan tujuan untuk kita berharap, bergantung dan meminta selain kepada Allah, rabb semesta alam, tuhannya pemerintah, ojol, tenaga medis, pekerja yang diphk, tka china yang kemarin datang, yang pada mudik, para relawan, seluruh masyarakat indonesia dan seluruh manusia di dunia, virus corona, tuhanku, dan juga tuhanmu.
Comments
Post a Comment